Loading Now
×

Simbolisme dan Spiritualitas di Balik Pakaian Adat Jawa Timur

Simbolisme dan Spiritualitas di Balik Pakaian Adat Jawa Timur

Simbolisme dan Spiritualitas di Balik Pakaian Adat Jawa Timur

Share this content:

Pakaian adat merupakan salah satu budaya warisan yang ada sampai saat ini. Jawa Timur memiliki beberapa pakaian adat dan menampilkan ketegasan namun juga menjunjung nilai etika yang tinggi di setiap model pakaian adatnya. Pakaian adat Jawa Timur pun kerap dijumpai saat acara hari besar atau pernikahan. Berikut beberapa pakaian adat asal Jawa Timur beserta filosofinya.

Baca Juga:

Pakaian Adat Jawa Timur

Pakaian adat merupakan salah satu budaya warisan yang ada sampai saat ini. Jawa Timur memiliki beberapa pakaian adat dan menampilkan ketegasan namun juga menjunjung nilai etika yang tinggi di setiap model pakaian adatnya. Pakaian adat Jawa Timur pun kerap dijumpai saat acara hari besar atau pernikahan.

Berikut beberapa pakaian Adat asal Jawa Timur beserta filosofinya.

Odheng

Odheng merupakan pakaian adat khas Jawa Timur yang berupa ikat kepala. Pada umumnya odheng digunakan sebagai aksesoris pelengkap dan terbuat dari kain batik. Odheng sendiri memiliki dua macam yaitu odheng santapan dan odheng tapoghan. Odheng santapan sendiri memiliki motif storjoan atau telaga biru dengan warna merah soga. Sementara itu, odheng tapoghan memiliki motif bunga atau lidah api dengan warna merah soga juga. Odheng kerap digunakan saat acara adat, upacara, hari besar, dan lain-lain.

Baju pesaan

Baju yang satu ini sudah tidak asing lagi lantaran kerap ditemui dalam kegiatan sehari-hari, baju pesaan dikenal sebagai baju dari Madura. Biasanya masyarakat Madura menggunakan baju ini untuk kegiatan sehari-hari hingga upacara adat lantaran memiliki model yang sederhana. Baju ini juga mudah dikenali karena memiliki motif yang unik, dengan motif garis berwarna merah dan putih serta celana kain hitam yang berukuran besar atau longgar. Model baju yang longgar ternyata mempunyai makna bahwa orang Madura sangat menghargai kebebasan.

See also  BlackRock Tetap Mantap Menahan Saham BUMI yang Performanya Boncos

Kebaya rancongan

Kebaya rancongan merupakan pasangan dari baju pesa’an. Kebaya yang satu ini memiliki model yang sederhana dan ukuran yang ketat di badan sehingga mengikuti bentuk tubuh. Dalam pemakaiannya, kebaya rancongan dipadukan dengan kain batik bermotif lasem, tebiruan atau storjan. Selain itu, wanita Madura juga umumnya menambahkan aksesoris seperti sisir cucuk, giwang, atau kalung emas berbentuk biji jagung.

Baju Mantenan

Manten dalam bahasa Jawa memiliki arti pengantin. Sehingga membuat baju ini sebagai pakaian adat yang seringkali digunakan pada saat pernikahan. Pada umumnya model baju pria dan wanita sama, yang terbuat dari bahan beludru dan memiliki warna dasar hitam. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, pakaian adat ini sudah mengalami beberapa modifikasi.

Baju Cak dan Ning

Apabila di Jakarta ada festival Abang dan None, Surabaya pun juga memiliki kontes pemilihan bujang dan gadis yang disebut Kontes Cak dan Ning. Cak merupakan panggilan akrab untuk laki-laki dan Ning merupakan panggilan akrab untuk perempuan. Baju untuk Cak terdiri dari beskap dan celana kain yang dilapisi dengan jarik dan dihiasi dengan beberapa aksesoris terutama di depan dada sebelah kanan. Sementara itu, Baju untuk Ning terdiri dari kebaya dan jarik serta tambahan kerudung selendang yang bermotif renda.

5-nama-pakaian-adat-jawa-timur-dan-filosofi-yang-terkandung-di-dalamnya-UInpYN6Wdj Simbolisme dan Spiritualitas di Balik Pakaian Adat Jawa Timur

Baca Juga:

Post Comment