Loading Now
×

Tebak-tebakan Gus Dur Memperlihatkan Betapa Menghiburnya Ulama Nusantara!

Tebak-tebakan Gus Dur Memperlihatkan Betapa Menghiburnya Ulama Nusantara!

Tebak-tebakan Gus Dur Memperlihatkan Betapa Menghiburnya Ulama Nusantara!

Share this content:

humor-gus-dur-tebak-tebakan-apa-hebatnya-ulama-nusantara-PDcjRPbm0d Tebak-tebakan Gus Dur Memperlihatkan Betapa Menghiburnya Ulama Nusantara!

Baca Juga:

Gus Dur, Presiden RI ke-4, Dikenal dengan Humor Khasnya

Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau biasa disapa Gus Dur, dikenal sebagai sosok yang sering melontarkan humor dalam berbagai kesempatan. Humor yang dibawakannya tersebut mampu membuat orang tertawa dan pada saat yang sama meredakan ketegangan politik yang tengah berlangsung kala itu.

Kisah Humor Gus Dur tentang Ulama Nusantara

Salah satu kisah humor yang diungkapkan oleh Gus Dur adalah tentang kehebatan ulama nusantara. Kisah ini disampaikan oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, saat menjadi narasumber dalam sarasehan moderasi beragama yang diadakan oleh Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pronojiwo bekerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Gus Dur pernah memulai tebak-tebakan dengan bertanya tentang bukti kehebatan ulama nusantara. Menurut KH Marzuki Mustamar, tidak ada yang bisa menjawab dengan tepat, kecuali secara normatif. Beberapa orang menjawab bahwa kehebatan ulama nusantara terletak pada kemampuan mereka menggunakan bahasa daerah seperti bahasa Jawa, Madura, dan lainnya dalam kehidupan sehari-hari, namun tetap mampu menulis karya-karya dengan bahasa Arab yang baik.

Namun, menurut Gus Dur, itu bukanlah faktor yang membuat ulama nusantara begitu hebat. Ada pula yang menjawab bahwa kehebatan mereka terletak pada kemampuan membangun pesantren ribuan. Namun, Gus Dur juga menepis jawaban tersebut. Menurut beliau, kehebatan ulama nusantara terletak pada sifat legowo dan penerimaan terhadap segala perbedaan.

See also  Mengenal Makna Barbenheimer di Balik Kesuksesan Penayangan Serentak Barbie-Oppenheimer

Gus Dur memberikan contoh kehebatan ulama nusantara di Jawa, di mana mayoritas penduduknya beragama Islam. Para ulama tetap berkomitmen menjaga tempat ibadah yang di dalamnya terdapat agama non-muslim. Mereka menganggap merusak masjid adalah sesuatu yang melanggar hukum agama, demikian juga dengan merusak candi atau gereja. Jawaban tersebut membuat pendengar terheran-heran dan kagum.

Menurut Kiai Marzuki, hal-hal seperti ini yang sering dikampanyekan oleh Gus Dur memiliki manfaat yang sangat besar bagi keutuhan bangsa Indonesia yang kental dengan beragam suku, agama, dan budaya. Gus Dur sangat menghargai dan mempromosikan keberagaman dengan sering berkunjung ke daerah-daerah minoritas muslim.

Keberagaman dalam Menjaga Makam dan Tempat Ibadah

Kiai Marzuki juga mengemukakan bagaimana keberagaman di Indonesia tercermin dalam menjaga makam dan tempat ibadah. Ia mencontohkan bagaimana di Jawa, makam Walisongo banyak dikunjungi peziarah dengan aman tanpa ada gangguan. Di Bali juga terdapat makam Wali Tujuh yang juga aman meskipun berada di wilayah minoritas muslim. Para pecalang, yang merupakan pengawas kuil Hindu di Bali, dengan tulus menjaga makam tersebut selama candi tidak diganggu. Hal ini sebagai timbal balik karena warga Hindu Bali juga dengan ikhlas menjaga makam Walipitu tanpa ada bayaran.

Menurut Kiai Marzuki, hal ini menunjukkan sikap moderat yang perlu terus dijaga. Keberagaman dan kerukunan antarumat beragama harus senantiasa dijaga agar peristiwa seperti merusak tempat ibadah di satu daerah tidak berdampak buruk pada tempat ibadah di daerah lain yang mayoritas beragama non-muslim.

Gus Dur Mendorong Kerukunan Antarumat Beragama

Seringnya Gus Dur berkunjung ke daerah-daerah minoritas muslim membawa dampak besar bagi kerukunan umat beragam di Indonesia. Ia sering menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam yang luhur dan penuh kasih sayang, sehingga semua tokoh agama turut berkomitmen untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

See also  Penonton We The Fest 2023 Tidak Bisa Menahan Diri Berjingkrak saat The Changcuters Manggung

Gus Dur mendorong agar setiap agama tidak menyerupai budaya dari agama lain, seperti Islam tidak harus seperti Arab, Kristen tidak harus seperti Barat, Hindu tidak harus seperti India, dan Konghucu tidak harus seperti Cina. Ia ingin setiap agama diterima dengan saling merangkul, meskipun memiliki perbedaan. Keberbedaan yang bersatu dan harmonis jauh lebih bermanfaat dibanding keseragaman yang bermusuhan. Gus Dur berpesan bahwa perbedaan yang berseteru hanya akan menciptakan kekacauan, padahal Indonesia membutuhkan persatuan dan kesatuan untuk menjadi negara yang lebih baik.

Baca Juga:

Post Comment